Notification

×

Kategori Artikel

Cari Artikel

Iklan

Iklan

Indeks Artikel

Tag Terpopuler

Hipotesis Penelitian

Jumat, 10 Desember 2021 | 22.46 WIB Last Updated 2021-12-28T17:23:44Z

Hipotesis Penelitian
Ilustrasi Hipotesis Penelitian

 

Penelitian merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan. Dengan dilakukan penelitian maka dihasilkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Untuk melakukan penelitian maka harus dilewati berbagai tahapan. Hal ini sesuai dengan pengertian penelitian ilmiah itu sendiri yakni menjawab masalah berdasarkan metode yang sistematis. Salah satu hal penting yang dilakukan terutama dalam penelitian kuantitatif adalah merumuskan hipotesis. 


Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian kuantitatif. Terdapat tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya: Pertama, Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik. Kedua, Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar. Ketiga, hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya.
 
Namun tidak semua peneliti mampu menyusun hipotesis dengan baik terutama peneliti pemula. Masih banyak terdapat kesalahan dalam menyusun hipotesis. Untuk menyusun hipotesis yang baik setidaknya peneliti harus mengacu pada criteria perumusan hipotesis, bagaimana jenis-jenis hipotesis dalam penelitian, maupun pemahaman tentang penelitian tanpa menggunakan hipotesis. Selain itu seorang peneliti juga harus mengetahui bagaimana cara menguji hipotesis agar terhindar dari kekeliruan yang mungkin terjadi dalam pengujian hipotesis.

A. Pengertian Hipotesis

Hipotesis berasal dari dua suku kata yaitu, Hypo (belum tentu benar) dan tesis (kesimpulan). Jadi hipotesis adalah hasil atau kesimpulan yang ditentukan dari sebuah penelitian yang belum tentu kebenarannya, dan baru akan menjadi benar jika sudah disertai dengan bukti-bukti.
 
Adapun definisi hipotesis menurut para ahli, yaitu:
  1. Menurut sekaran (2005), mendefinisikan hipotesis sebagai hubungan yang diperkirankan secara logis di antara dua atau lebih variable yang diungkap dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji. Hipotesis merupakan jawaban sementara atas pertanyaan penelitian. Dalam hal ini hipotesis sangat berkaitan dengan perumusan masalah, karena perumusan masalah merupakan pertanyaan penelitian yang harus dijawab pada hipotesis, dan dalam menjawab rumusan masalah dalam hipotesis haruslah berdasar pada teori dan empiris.
  2. Menurut Atmadilaga (1994), penyusunan hipotesis berupa logika berpikir deduktif dalam rangka mengambil kesimpulan khusus (hipotesis) dari kesimpulan umum berupa premis-premis. Adapun kebenaran logika deduktif menganut asas koherensi. Artinya, mengingat bahwa premis-premis itu merupakan sumber informasi yang tidak perlu diuji lagi kebenaran ilmiahnya, maka dengan sendirinya hipotesis sebagai kesimpulan dari premis-premis itu mempunyai kepastian kebenaran pula.
  3. Fraenkel dan Wallen (1990: 40), berpendapat bahwa hipotesis merupakan prediksi mengenai kemungkinan hasil dari suatu penelitian.
  4. Dalam Yatim Riyanto (1996: 13), menyetakan bahwa hipotesis merupakan jawaban yang sifatnya sementara terhadap permasalahan yang diajukan dalam penelitian. Hipotesis belum tentu benar. Benar atau tidaknya suatu hipotesis tergantung pengujian dari dara empiris.
  5. Suharsimi Arikunto (1995: 71), mendefinisikan bahwa hipotesis sebagai alternatif dugaan jawaban yang dibuat oleh peneliti bagi problematika yang diajukan dalam penelitiannya.
  6. Hipotesis merupakan jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Apabila peneliti telah mendalami permasalahan penelitian dengan seksama dan menetapkan anggapan dasar maka ia perlu menguji, ini disebut hipotesis.
 
Secara garis besar, kegunaan hipotesis adalah sebagai berikut:
  1. Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
  2. Menyiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
  3. Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting yang menyeluruh.
  4. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta.

B. Jenis-jenis Hipotesis

Adapun jenis-jenis hipotesis, yaitu :

1. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian adalah hipotesis yang mengandung pernyataan mengenai hubungan atau pengaruh, baik secara positif atau secara negatif antara dua variable atau lebih sesuai dengan teori. Jenis hipotesis ini juga sering disebut sebagai hipotesis yang dilihat dari sifat variabel yang akan diuji.
 
Dilihat dari sifat yang akan diuji, hipotesis penelitian dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
  1. Hipotesis tentang hubungan
  2. Hipotesis tentang perbedaan.
 
Hipotesis tentang hubungan yaitu hipotesis yang menyatakan tentang saling hubungan antara dua variabel atau lebih, mengacu ke penelitian korelasional. Hubungan antara variabel tersebut dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
  1. Hubungan yang sifatnya sejajar tidak timbal balik.
  2. Hubungan yang sifatnya sejajar timbal balik.
  3. Hubungan yang menunjuk pada sebab akibat tetapi tidak timbal balik.
 
Sedangkan hipotesis tentang perbedaan, yaitu hipotesis yang menyatakan perbedaan dalam variabel tertentu pada kelompok yang berbeda. Hipotesis tentang perbedaan ini mendasari berbagai penelitian komparatif dan eksperimen.
 

2. Hipotesis dilihat dari kategori rumusannya (Hipotesis Statistik)

Menurut Yatim Riyanto (1996: 13) hipotesis dilihat dari kategori rumusannya dibagi menjadi dua, yaitu (1) hipotesis nihil (null hypotheses) yang biasa disingkat dengan Ho, dan (2) hipotesis alternative (alternative hypotheses) yang biasa disingkat dengan Ha.
 
Hipotesis nihil (Ho), yaitu hipotesis yang menyatakan tidak adanya hubungan antara suatu variabel dengan variabel yang lain. Contohnya, Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa SD.
 
Sedangkan hipotesis alternatif (Ha) yaitu hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara suatu variabel dengan variabel yang lain. Contohnya, Ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa SD.
 
Hipotesis alternatif ada dua macam, yaitu directional hipotheses (hipotesis terarah) dan non directional hipotheses (hipotesis tak terarah). (Frankel dan Wallen, 1990: 42; Suharsimi Arikunto, 1989 :57)
Hipotesis terarah (directional hipotheses) adalah hipotesis yang diajukan oleh peneliti, di mana peneliti sudah menemukan dengan tegas yang menyatakan bahwa variabel independent memang sudah diprediksi berpengaruh terhadap variabel dependent. Misalnya : siswa yang diajar dengan metode inkuiri lebih tinggi prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan menggunakan metode curah pendapat (diskusi).
 
Hipotesis tak terarah (non directional hipotheses) adalah hipotesis yang diajukan dan dirumuskan oleh peneliti tampak belum tegas bahwa variabel independent berpengaruh terhadap variabel dependent. Frankel dan Wallen (1990: 42) menyatakan bahwa hipotesis tak terarah menggambarkan bahwa peneliti tidak menyusun prediksi secara spesifik tentang arah hasil penelitian yang akan dilakukan. Misalnya: Ada perbedaan pengaruh penggunaan metode mengajar inkuiri dan curah pendapat terhadap prestasi belajar siswa.

3. Jenis hipotesis yang dilihat dari keluasan atau lingkup variabel yang diuji

Ditinjau dari keluasan dan lingkupnya, dapat dibedakan menjadi hipotesis mayor dan hipotesis minor. Hipotesis mayor adalah hipotesis yang mencakup kaitan seluruh variabel dan seluruh subjek penelitian. Sedangkan hipotesis minor adalah hipotesis yang terdiri dari bagian-bagian atau sub-sub dari hipotesis mayor (jabaran dari hipotesis mayor).
 
Contoh hipotesis mayor :
Ada hubungan antara keadaan social ekonomi (KSE) orang tua dengan prestasi belajar siswa SMA.
Contoh hipotesis minor :
  1. Ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa SMA.
  2. Ada hubungan antara pendapatan orang tua dengan prestasi belajar siswa SMA,
  3. Ada hubungan antara kekayaan orang tua dengan prestasi belajar siswa SMA.

C. Karakteristik Hipotesis Yang Baik

Mengutip pendapat Yatim Riyanto (1996: 16) yang mengatakan bahwa, sebenarnya nilai atau harga suatu hipotesis tidak dapat diukur sebelum dilakukan pengujian empiris. Namun demikian, bukan berarti dalam merumuskan hipotesis yang akan diuji dapat dilakukan “semau peneliti”. Ada beberapa kriteria tertentu yang memberikan ciri hipotesis yang baik. 

Ciri-ciri hipotesis yang baik menurut Donald Ary, (Arief Furchan, 1982: 126-129 dan Yatim Riyanto, 1996: 16) diantaranya:
  1. Hipotesis harus mempunyai daya penjelas, suatu hipotesis harus merupakan penjelasan yang mungkin mengenai apa yang seharusnya dijelaskan atau diterangkan.
  2. Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada diantara variabel-variabel. Suatu hipotesis harus memprediksi hubungan antara dua variabel atau lebih.
  3. Hipotesis harus dapat diuji, hipotesis yang diajukan peneliti harus bersifat testability, artinya terdapat kemampuan untuk diuji.
  4. Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada. Hipotesis hendaknya tidak bertentangan dengan teori atau hokum-hukum yang sebelumnya sudah mapan.
  5. Hipotesis hendaknya sederhana dan seringkas mungkin.
 
Sedangkan menurut John W. best (1977) dalam Yatim Riyanto (1996: 16) bahwa ciri-ciri hipotesis yang baik, yaitu:
  1. Bisa diterima oleh akal sehat.
  2. Konsisten dengan teori atau fakta yang telah diketahui.
  3. Rumusannya dinyatakan sedemikian rupa sehingga dapat diuji.
  4. Dinyatakan dalam perumusan yang sederhana dan jelas.
 
Adapun menurut Borg dan Gall (1979: 61-62) dalam Yatim Riyanto (1996: 16) dan Suharsimi Arikunto (1995: 64-65) mengatakan bahwa hipotesis yang baik harus memenuhi empat criteria, yaitu:
  1. Hipotesis hendaknya merupakan rumusan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih.
  2. Hipotesis yang dirumuskan hendaknya disertai dengan alasan atau dasar-dasar teoritis dan hasil penemuan terdahulu. Walaupun hipotesis baru merupakan jawaban atau dugaan yang harus diuji kebenarannya, dan dari pengujiannya itu ada kemungkinan terbukti atau tidak, namun peneliti tidak boleh sembarang menduga. Pemilihan alternatif dugaan tersebut harus dilakukan secara professional ilmiah yang disertai dengan argumentasi yang kokoh.
  3. Hipotesis harus dapat diuji. Berdasarkan criteria ini peneliti dituntut agar mampu mencari data yang akan digunakan untuk membuktikan hipotesisnya.
  4. Rumusan hipotesis hendaknya singkat dan padat. Berdasarkan criteria ini hipotesis tidak boleh menggunakan kiasan kata yang tidak atau kurang bermakna. Hipotesis merupakan pernyataan suatu kebenaran. Agar kebenaran tersebut dapat dengan cepat dan mudah dipahami maka sudah selayaknya kalau rumusannya singkat dan padat.
 
Pendapat lain mengatakan bahwa cirri-ciri hipotesis yang baik, yaitu :
  • Hipotesis harus menyatakan hubungan.
  • Hipotesis harus sesuai dengan fakta.
  • Hipotesis harus berhubungan dengan ilmu, serta sesuai dengan tumbuh kembangnya ilmu pengetahuan.
  • Hipotesis harus dapat diuji.
  • Hipotesis harus sederhana.
  • Hipotesis harus bias menerangkan fakta.

D. Perumusan Hipotesis

Di dalam hipotesis terkandung suatu ramalan. Ketetapan ramalan itu tentu tergantung pada penguasaan peneliti itu atas ketetapan landasan teoritis dan generalisasi yang telah dibacakan pada sumber-sumber acuan ketika melakukan telaah pustaka.
 
Menggali dan merumuskan hipotesis mempunyai seni tersendiri. peneliti harus sanggup memfokuskan permasalahan sehingga hubungan-hubungan yang terjadi dapat diterka. Dalam menggali hipotesis, peneliti harus:
  1. Mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan cara banyak membaca literature-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan.
  2. Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat-tempat, objek-objek, serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam masalah yang sedang diselidiki.
  3. Mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuai dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan.
 
 Perumusan hipotesis yang baik dan tepat setidaknya menurut indrianto dan supomo ( 2002: 77) antara lain dengan mempertimbangkan criteria kreteria tertentu sebagai acuannya dan penjelasan sebagai berikut :

a. Berupa pernyataan yang mengarah kepada tujuan penelitian

Tujuan penekitian adalah memecahkan masalah atau utuk menjawab pernyataan penelitian hipotesis dalam penelitian kuantitaf, merupakan jawaban rasiional yang deduksi dari konsef konsef dan teori teori yang sudah ada

b. Berupa perfnyatan yang dirumuskan dengan maksud ingin diuji secara empiris.

Tujujan penelitian ( penelitian Dasar ) adalah menguji teoritis dan hipotesis maka akar dapatt diuji , hiotesis harus menyatakan secara jelas pariabel variabal yang di teliti atau berupa duaaamn tettentu pada hubungan antar dua variable

c. Berupa pernyataan peryataan yang dikembangakan berdasarkan teori-teori lebih kuat jika dibandingkan dengan hipotesis lawannya.

Berapa teori kemungkinan saling bertentangan satu sama lain, atau terdapat teori yang satu lebih kuat dengan teori lainnya. Hipotesis yang dikembangkan oleh peneliti harus mempunyai dukungan landasan teoritis lebih kuat, dari pada alternatif. Dapat terjadi hipotesis lainnya kemungkinan dikembangakan melalui teori tgeori yang lainnya. 

Pendapat lain mengatakan bahwa, cara orang merumuskan hipotesis itu tidak ada aturan umumnya. Namun, dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:
  • Hipotesis hendaklah menyatakan pertautan antara dua variabel atau lebih.
  • Hipotesis hendaklah dinyatakan dalam kalimat deklaratif atau pernyataan.
  • Hipotesis hendaklah dirumuskan secara jelas dan padat.
  • Hipotesis hendaklah dapat diuji.

E. Pengujian Hipotesis

Sebagaimana dikemukakan oleh Donald Ary et al (dalam Arief Furchan, 1982: 133) dan Yatim Riyanto (1996: 16-17) bahwa untuk menguji hipotesis, peneliti perlu:
  1. Menarik simpulan tentang konsekuensi yang akan dapat diamati apabila hipotesis itu benar.
  2. Memilih metode penelitian yang akan memungkinkan pengamatan, eksperimentasi, atau prosedur lain yang diperlukan untuk menunjukkan apakah akibat-akibat itu benar atau tidak.
  3. Mengumpulkan data yang dapat dianalisis untuk menunjukkan apakah hipotesis tersebut didukung oleh data atau tidak.
 
Pengujian ini bertujuan sebagai penjajakan (eksplorasi), deskriptif, dan uji hipotesis. Pengujian hipotesis merupakan proses yang cukup panjang dan memerlukan akurasi yang tepat dan sistematis, apalagi data yang diteliti adalah data sampel yang merupakan bagian dari populasi. Pengujian hipotesis ini adalah ekspektasi peneliti mengenai karakteristik tertentu suatu populasi yang didukung dengan landasan konseptual tertentu untuk diuji kebenarannya. Langkah selanjutnya yaitu membuat keputusan untuk menerima atau menolak hipotesis yang diajukan oleh peneliti tersebut.
 
Suatu uji hipotesis dikatakan ditolak, jika dari uji statistika yang dilakukan, peneliti memperoleh hasil akhir bahwa hipotesis nihil yang diajukan peneliti ditolak karena perbedaan hasil variabel yang terjadi bukan disebabkan oleh suatu kebetulan namun didukung dengan data yang ada di lapangan. Dan dapat pula karena hipotesis pendamping, hasil statistiknya didukung atau diterima sebagai hal yang benar. Maksudnya dalam suatu hipotesis statistik, antara hipotesis nol (H0) dan alternatif (Ha), jika salah satu ditolak, maka yang lainnya pasti diterima sehingga dapat dibuat keputusan secara tegas yaitu H0 = ditolak, dan Ha = diterima.
 
Dan suatu hipotesis dikatakan diterima, jika hipotesis yang diturunkan dari hasil kesimpulan kajian teoristis tidak ditolak. Jika tes statistika menerima hipotesis nihil, hal ini berarti bahwa perbedaan yang dihasilkan dari proses pengkajian pustaka hanya disebabkan oleh kesalahan tidak disengaja waktu mengambil data di lapangan. Atau hipotesis riset yang telah diajukan peneliti sebagai hipotesis pendamping, ditolak atau tidak didukung oleh informasi yang ada.
 
Untuk itu, sebagaimana dikatakan sebelumnya dalam makalah ini bahwa dalam merumuskan hipotesis terdapat dua pilihan peneliti, yakni menerima keputusan seadanya saat hipotesis tidak terbukti atau mengganti hipotesis seandainya melihat tanda-tanda bahwa data yang terkumpul tidak mendukung terbuktinya hipotesis (pada saat penelitian berlangsung).

Kesimpulan

Hipotesis merupakan jawaban sementara atas suatu penelitian, yang di mana jawaban tersebut masih memerlukan pembuktian yang empiris. Penelitian yang dilakukan sebenarnya tidak semata-mata ditujukan untuk hipotesis yang diajukan, tetapi bertuan menemukan fakta yang ada dan terjadi di lapangan.
 
Jenis-jenis hipotesis:
  1. Hipotesis dilihat dari kategori rumusannya.
  2. Hipotesis dilihat dari sifat variabel yang akan diuji.
  3. Hipotesis dilihat dari keluasan atau lingkup variabel yang diuji.
 
Dalam merumuskan hipotesis tentunya peneliti juga harus mengetahui terlebih dahulu karakteristik hipotesis yang baik dan bagaimana merumuskan hipotesis dengan benar. Dalam hal ini sudah dijelaskan sebelumnya criteria dan perumusan hipotesis yang baik dan benar, yang tentunya mempunyai tahapan-tahapan.
 
Setelah merumuskan hipotesis ada yang disebut dengan pengujian hipotesis, pengujian hipotesis bertujuan untuk menentukan apakah hipotesis yang diteliti terbukti kebenarannya atau tidak, atau hipotesisnya diterima atau tidak.
×
Artikel Terbaru Update